Lampung
Selatan sedang berduka disusul terjadinya Bentrok antar warga. Bentrokan yang terjadi di Desa
Balinuraga, Lampung Selatan, Minggu (28/10) lalu menyebabkan rumah-rumah rusak
dan tak layak huni.
Akibat
peristiwa tersebut 1.596 warga Desa Balinuraga masih
mengungsi. Dan menewaskan 12 warga yang bersitegang.
Kecemburuan sosial menjadi kunci dari salah satu masalah
bentrok tersebut, Tenaga
Ahli Menteri Sosial, Sapto Waluyo menuturkan saat mendatangi daerah konflik
desa Balinuraga dan Agom di kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, masih melihat
perbedaan kondisi ekonomi sehingga menimbulkan kecemburuan sosial yang tinggi.
"Masyarakat asli Lampung merasa kondisi sosial-ekonomi mereka jauh tertinggal dibanding kaum pendatang. Di samping itu, ada kelompok yang mempertahankan adat kebiasaannya dan tidak mau berbaur dengan lingkungan ba
ru."Masyarakat asli Lampung merasa kondisi sosial-ekonomi mereka jauh tertinggal dibanding kaum pendatang. Di samping itu, ada kelompok yang mempertahankan adat kebiasaannya dan tidak mau berbaur dengan lingkungan ba
Menurutnya sampai saat ini masih ada kelompok-kelompok kecil yang sulit untuk berbaur dengan lingkungan dan lebih mementingkan kelompok atau kebersamaan di dalam
kelompok, hal itu dapat menyebabkan insiden kecil menjadi membesar."Sehingga insiden kecil dapat memicu konflik komunal,
Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, Syahabuddin, yang meninjau lokasi pengungsi di SPN Kemiling bersama Bupati Lampung Selatan, Ryco Menoza, mengatakan, daerah konflik di Lampung Selatan saat ini memasuki tanggap darurat.
"Saat ini kita memasuki masa tanggap darurat, proses penghentian kekerasan dan perlindungan terhadap korban dan pengungsi. Bersama Dinsos Provinsi Lampung kami menyiapkan shelter dan logistik," kata Syahabuddin.
Ditambahkan Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Hartono Laras, nantinya Kementerian Sosial akan menggulirkan program keserasian sosial untuk mencegah konflik di masa depan.
"Dengan memperberdayakan masyarakat miskin agar tidak muncul kecemburuan. Dari situ ketahanan sosial dibangun," jelas Hartono
Sebelum konflik desa Balinuraga dan Agom pada 28-29 Oktober lalu, pada bulan Januari 2012 pernah terjadi bentrok serupa dan dilakukan perdamaian secara adat. Namun, nampaknya penyelesaian perdamaian tersebut hanya menyentuh kalangan muda dan akar rumputnya melainkan kalangan adat. Saat itu
Beberapa tokoh yang yang sempat diajak bernegoisasi untuk perdamaian adat Lampung seperti Pangeran Margaratu, Pangeran Legun
Tihang, Pangeran Dantaran Naga Bringsang, Pangeran Rajabasa, dan Pangeran Ratu
Marga Katibung, bersama dengan komunitas Bali yang diwakilkan Parisada Hindu
Dharma sempat dilakuan dialog lintas yang dirintis Gubernur Lampung Sjahroedin
ZP belum mencapai kesepakatan bahkan dirinya sempat merencanakan mengundang
Gubernur Bali untuk berembug mencari solusi.
Besar harapan warga sekitar agar
perdamaian bisa cepat terjalin, agar warga dapat kembali hidup Damai,aman dan
tentram. "Ke depan harapan bisa tentram kembali, berdampingan membangun
Lampung Selatan, dan tidak terulang lagi kejadian seperti ini," ujar
Subagio.
Penuturan serupa Wayan Busanu (28) saat ditemui di pengungsian Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling. "Kita maunya hidup akur, jangan seperti ada masalah kayak gini," harap Busanu.
Begitu pula dengan Wayan Sutini (40), salah satu pengungsi dari Kampung Bali Nuraga.
"Kami cuma ingin tenang dan damai hidup di kampung sini," ujar Sutini
Bentrokan membuat segalanya hancur. Korban dari kedua belah pihak berjatuhan. Anak-anak tidak bisa bersekolah karena was-was dan sekolah mereka luluh lantah dirusak massa. Belum lagi nasib ribuan warga yang tidak tahu-menahu duduk persolan harus menikmati hidup di pengungsian dengan tidur beralaskan terpal dan tikar.
Penuturan serupa Wayan Busanu (28) saat ditemui di pengungsian Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling. "Kita maunya hidup akur, jangan seperti ada masalah kayak gini," harap Busanu.
Begitu pula dengan Wayan Sutini (40), salah satu pengungsi dari Kampung Bali Nuraga.
"Kami cuma ingin tenang dan damai hidup di kampung sini," ujar Sutini
Bentrokan membuat segalanya hancur. Korban dari kedua belah pihak berjatuhan. Anak-anak tidak bisa bersekolah karena was-was dan sekolah mereka luluh lantah dirusak massa. Belum lagi nasib ribuan warga yang tidak tahu-menahu duduk persolan harus menikmati hidup di pengungsian dengan tidur beralaskan terpal dan tikar.
Opini penulis : warga yang bentrok seharusnya
harus belajar untuk lebih bersolidaritas
dan menghargai orang lain, akibat dari bentrok yang terjadi hanya merugikan
semua pihak yang bertikai, tidak ada yang mendapatkan untung dari bentrok
tersebut ,warga sekitar pun kini merasa
takut dan terancam, tidak ada lagi damai, aman dan tentram disana.
Semoga upaya perdamaian yang sedang di negoisasai bisa terjalin dengan cepat dan
lancar, masih banyak duka yang harus dipulihkan dari lampung selatan, terutama
trauma yang dialami warga Lampung Selatan.
*Para
warga yang masih trauma dan tinggal di pengungsian
Sumber : http://news.detik.com